CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SUMBING VIA GARUNG

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN

GUNUNG SUMBING VIA GARUNG

   (31 JANUARI – 2 FEBRUARI 2014)

Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3.371 mdpl dan merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah gunung Slamet 3.428 mdpl. Secara administratif gunung Sumbing berada di Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung Sumbing merupakan kembaran gunung Sindoro dan dapat dilihat dari bentuknya termasuk jenis gunung stratovolcano, bentuknya kerucut dan memiliki kawah, tidak seperti kawah Sindoro yang masih aktif dan mengeluarkan asap belerang yang mematikan, kawah Gunung Sumbing sendiri sudah tidak aktif lagi.

 

Pendakian gunung Sumbing via Garung dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 31 Januari sampai dengan hari Minggu tanggal 2 Februari 2014. Yang ikut berpartisipasi dalam pendakian kali ini ada 15 orang, yakni Budi, Faiz, Syeila, Agung F, Nafi, Dhita, Asih, Pita, Mas Ade, Erwin, Sapto, Agung, Asep, Dian, dan Yuni. Yang berangkat dari Solo ada 14 orang, karena hanya Mas Ade saja yang sudah menunggu di Wonosobo, sebab rumah Mas Ade berada di Kebumen. Lebih dekat menuju ke Wonosobo langsung daripada harus berangkat bersama dari Solo.

Perjalanan dimulai pukul 05.35 dari Sekretariat MEPA-UNS menuju depan Kampus UNS. Kami berangkat pagi karena ingin mengejar sholat Jum’at di Wonosobo. Sampai depan Kampus kami menunggu Bus arah Terminal Tirtonadi. Pukul 06.00 kami berangkat dari Kampus UNS dan sampai di Terminal Tirtonadi Pukul 06.15. Kami berniat berangkat lewat Magelang menggunakan Bus Eka. Kami cukup lama menunggu Bus tersebut sampai pukul 08.00 Bus baru datang, namun bus tersebut penuh sesak dengan penumpang. Akhirnya kami putuskan untuk naik Bus arah Bawen. Pukul 08.00 kami berangkat dari Titonadi naik Bus Ismo dengan tarif Rp. 15.000/orang dan sampai di Bawen pukul 10.00. Kemudian kami oper Bus arah Wonosobo. Pukul 10.15 kami berangkat dari Bawen naik Bus Maju Makmur dengan tarif Rp. 20.000/orang. Akibat kami menunggu cukup lama di Tirtonadi maka kami terlambat untuk sholat Jum’at di Wonosobo karena kami baru sampai Basecamp pukul 12.50. Basecamp pendakian Garung terletak di Dukuh Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Sampai di Basecamp kami mengurus retribusi pendakian terlebih dahulu dengan biaya Rp. 4000/orang kemudian beristirahat sejenak dan makan siang sebelum mulai pendakian.

Pendakian jalur Garung ada dua jalur, yakni jalur baru dan jalur lama. Untuk pendakian kali ini kami menggunakan jalur baru. Pendakian kami mulai pukul 14.30, dari basecamp kita ambil arah menuju ke pemukiaman penduduk, kemudian terus saja sampai mentok kemudian ambil arah kanan, terus saja, lalu ambil kiri sampai menemui jembatan. Dari basecamp treck masih berupa jalan aspal kemudian berubah menjadi jalan makadam (bebatuan yang disusun menjadi jalan). Setelah jembatan kita ambil jalan kekiri dan naik. Awal perjalanan kita sudah disuguhkan dengan treck yang curam dan treck makadam yang melewati ladang warga, hal ini cukup menguras tenaga kami.

Setelah treck makadam habis jalur berubah menjadi tanah dan vegetasi berubah menjadi hutan pinus. Perbatasan ladang dan hutan di Sumbing disebut Bossweisen. Dari sini 10 menit perjalanan kita akan melewati sungai kecil dan airnya bisa digunakan untuk persediaan selama pendakian. Dari sungai tersebut sekitar 10 menit kami sampai di Pos 1 pukul 17.00. Kami beristirahat sejenak dan melaksanakan sholat. Kami mulai berjalan lagi pukul 17.10. Hujan pun turun dan mempersulit langkah kami, karena treck yang kami lalui berupa tanah dan bebatuan ditambah lagi menjadi saluran air ketika hujan. Treck menjadi licin dan sulit untuk dipijak. Karena keadaan cuaca yang kurang mendukung dan kondisi tubuh yang sudah menurun, akibat tenaga terkuras habis akhirnya kami putuskan untuk mendirikan Camp di Pos 2 yang menurut informasi ada Shelternya. Sampai di Pos 2 (Gatakan) pukul 19.00, dalam keadaan hujan dan angin kami pun mendirikan tenda dome untuk tempat perlindungan dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan esok hari. Pos 2 dapat memuat 3 tenda kapasitas 5 orang.

Keesokan harinya kami berbenah dan mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Keadaan cuaca cukup cerah. Kami berangkat dari Pos 2 pukul 09.30, sekitar 10 menit perjalanan kami melewati In Memoriam Tri Antomo. Di sini dapat untuk mendirikan 2 tenda kapasitas 5 orang. Untuk treck sendiri cukup terjal dan berupa tanah merah. Vegetasi juga mulai berubah, berupa pohon-pohon yang jaraknya jarang dan rumput ilalang. Selama perjalanan kita menemui 3 tempat datar yang dapat untuk mendirikan 1 tenda kapasitas 5 orang. Sampai di Pos 3 (Pestan) pukul 11.10, kami disambut dengan angin yang cukup kencang karena tidak ada pepohonan yang tumbuh di Pestan.

 

Pos 3 (Pestan)                                   Foto-foto di Pestan

Di Pestan sendiri dapat untuk mendirikan 4 tenda kapasitas 5 orang, Namun cukup berbahaya karena tidak ada pelindung dari angin badai maupun petir. Kami melanjutkan perjalanan pukul 11.15 dan sampai di Pasar Watu pukul 13.00. Perjalanan menuju Pasar Watu sendiri cukup sulit karena cuaca kabut dan angin yang bertiup cukup kencang. Dinamai Pasar Watu karena banyak sekali bebatuan yang berserakan, treck berupa bebatuan besar kecil, kita harus berhati-hati dalam memijakkan kaki, karena kita dapat terpeleset ataupun kaki kita dapat terjepit dibebatuan. Di Pasar Watu jangan ambil jalan lurus naik, namun ambil arah kiri, menuruni punggungan. Seletah turun kita akan melewati treck yang cukup sulit, karena kita harus memanjat tebing 4 meter untuk sampai di treck atas. Tebing tersebut cukup curam dan licin, harus sangat berhati-hati untuk melewatinya. Kami satu persatu menaiki tebing tersebut. Selanjutnya kami lanjutkan perjalanan dan sampai di Watu Kotak pukul 14.45. Dari sini kami berniat untuk langsung Summit Attack dan meninggalkan barang bawaan kami di Watu Kotak. Namun kami bertemu dengan pendaki yang baru saja sampai di Puncak Buntu yang mengatakan bahwa keadaan di Puncak sangat berbahaya karena kondisi badai. Karena persediaan makanan kami cukup untuk esok hari, maka akhirnya kami putuskan untuk mendirikan tenda, beristirahat di Watu Kotak dan menunggu keesokan hari berharap esok hari cuaca cerah dan dapat melihat pemandangan di Pucak. Di Watu Kotak dapat untuk mendirikan 3 tenda dome kapasitas 4-5 orang.

Keesokan harinya kami bangun dan mengisi tenaga untuk menuju Puncak, namun kondisi cuaca belum berubah. Tidak ada pilihan lagi bagi kami untuk mundur, kami putuskan untuk tetap Summit Attack. Barang sudah kami Packing, namun untuk muncak kami hanya membawa jas hujan dan minuman serta snack seadanya. Tas kami tinggalkan di Watu Kotak. Kami berangkat pukul 08.15 dari Watu Kotak, dari sini treck sangat terjal berupa bebatuan. Vegetasi berupa pepohonan setinggi 2-3 meter, edelweiss, dan ilalang. Kami sampai di Tanah Putih pukul 09.00 dan kemudian kami lanjutkan menuju Puncak. Kami sampai di Puncak Buntu 3.371 mdpl pukul 09.30. Kami berfoto-foto sebentar saja di Puncak karena kondisi cuaca berkabut disertai angin kencang dan serasa begitu dingin ditubuh walau memakai jaket tebal. Kami kali ini kurang beruntung karena tidak dapat melihat pemandangan secara luas dari puncak. Walaupun demikian ada sedikit kegembiraan dalam diri kami, karena kami semua dapat menapaki Puncak gunung Sumbing dengan rasa Kebersamaan dan Kekeluargaan kami semua. : D

Pukul 09.45 kami turun dari puncak dan sampai di tanah putih pukul 10.00. Kami sampai di Watu Kotak pukul 11.00, kemudian kami beristirahat sebentar dan membereskan barang-barang yang belum masuk kedalam tas carier kami. Pukul 12.15 kami mulai turun dari Watu Kotak dan sampai di Pasar Watu pukul 13.00. Perjalanan turun juga cukup sulit karena treck terjal dan kadang kita harus prosotan agar sampai dibawah. Sampai di Pestan pukul 13.45, kami beristirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan pukul 14.00. Selama perjalanan dari Pestan-Pos 2 kami memunguti sampah yang berserakan di beberapa tempat. Sampai di Pos 2 pukul 15.20, kami beristirahat disini cukup lama. Sampah di Pos 2 cukup banyak, maka kami pun langsung memungutinya juga untuk dibawa turun. Sebagai makhluk ciptaan-Nya seharusnya kita tidak mengotori dan memperburuk ciptaan-Nya yang lain. Sampah yang kita hasilkan selama pendakian seharusnya dibawa turun kembali, bukannya ditinggalkan di alam. Katanya Pecinta Alam…

Kami melanjutkan perjalanan dari Pos 2 pukul 16.15 dan sampai di Pos 1 pukul 17.00. Selanjutnya kami istirahat di sungai di dekat Pos 1. Waktu kami naik, air di sungai tersebut cukup jernih namun kali ini air disungai tersebut keruh dan berbau tidak sedap. Kami melanjutkan perjalanan pukul 17.15 dan sampai di Basecamp pukul 19.25. Sampai di Basecamp kami langsung beristirahat, mengisi tenaga kami dengan membeli makanan yang ada di Basecamp, dan bersih diri. Selanjutnya kami berniat langsung pulang dengan naik bus arah Bawen. Namun setelah mendapat info dari pengelola basecamp ternyata bus malam jarang lewat, bila beruntung hanya ada 3 jam sekali. Kemudian kami ditawarkan untuk carter mini bus yang dimiliki oleh warga di daerah Garung. Setelah negosiasi, kami sepakat untuk carter mini bus dari Garung langsung sampai ke Kampus UNS dengan biaya Rp. 560.000,-. Kami berangkat dari Basecamp pukul 22.45 dan sampai di Kampus UNS pukul 03.15.

Rangkuman dan Saran :

  • Lebih baik pendakian Gunung Sumbing dilakukan pada musim kemarau, karena pada saat musim penghujan Gunung Sumbing sering tertutup kabut dan badai. Hal ini sangat berbahaya untuk pendakian.
  • Saya sarankan, bila melakukan pendakian di musim penghujan jangan mendirikan tenda dome di Pos 3 (Pestan) karena tempatnya terbuka dan berbahaya bila terjadi badai. Angin dan petir dapat mengancam jiwa kita. Lebih baik mendirikan dome di bawah Pestan, Pos 2 ataupun di Watu Kotak yang tempatnya lebih tetutup.
  • Nomor HP Basecamp Sumbing 085868611446

 

Treck Waktu Lama Keterangan
Kampus UNS–Tirtonadi 06.00-06.15            15’ Bus Langsung Jaya Rp. 40.000,-
Tirtonadi – Bawen 08.00-10.00 2 jam Bus Ismo Rp. 15.000/orang
Bawen – Garung 10.15-12.50 2 jam, 35’ Bus Maju Makmur Rp. 20.000/orang
Total Perjalanan   4 jam, 50’  
       
Basecamp – Pos 1 14.30-17.00 2 jam, 30’ Treck makadam, vegetasi ladang
Pos 1 – Pos 2 17.10-19.00 2 jam, 10’ Treck tanah merah & bebatuan, vegetasi hutan pinus, rapat
Pos 2 – Pos 3 (Pestan) 09.30-11.10 1 jam, 40’ Treck tanah merah, vegetasi pohon & semak, renggang
Pos 3 (Pestan) – Pasar Watu 11.15-13.00 2 jam, 15’ Treck tanah merah & bebatuan, vegetasi semak, renggang
Pasar Watu – Watu Kotak 13.00-14.45 1 jam, 45’ Treck bebatuan, vegetasi semak, renggang
Watu Kotak – Tanah Putih 08.15-09.00            45’ Treck bebatuan, vegetasi pohon & semak, renggang
Tanah Putih – Puncak 09.00-09.30            30’ Treck tanah kapur & bebatuan, vegetasi pohon ilalang, renggang
Total Pendakian   11 jam, 35’  
       
Puncak – Tanah Putih 09.45-10.00            45’ Perjalanan Turun
Tanah Putih – Watu Kotak 10.00-11.00 1 jam ——‘’——-
Watu Kotak – Pasar Watu 12.15-13.00            45’ ——‘’——-
Pasar Watu – Pos 3 (Pestan) 13.00-13.45            45’ ——‘’——-
Pos 3 (Pestan) – Pos 2 14.00-15.20 1 jam, 20’ ——‘’——-
Pos 2 – Pos 1 16.15-17.00 1 jam, 15’ ——‘’——-
Pos 1 – Basecamp 17.15-19.25 2 jam, 10’ ——‘’——-
Total Turun   8 jam  
       
Garung – Kampus UNS 22.45-03.15 4 jam Carter Mini Bus, 14 orang Rp. 560.000,-

 

Referensi :

Wijaya, H. & Wijaya, C. (2005). Jejak Sang Petualang. Yogyakarta: ANDI

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s