PERJALANAN PEMANJATAN TEBING KALIPANCUR

Pada tanggal 19 – 20 September 2015 kemarin, tepat seminggu setelah kegiatan MNAC, MEPA-UNS mengadakan latihan alam ke tebing Kalipancur. Tebing Kalipancur tepatnya beralamat di desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, sekitar 14 km sebelah barat Kota Salatiga. Yang membuat spesial dari tempat pemanjatan ini adalah lokasi tebing yang berdekatan dengan air terjun setinggi 150 meter dan dikelilingi oleh hutan pinus.

Kami berangkat dari sekre MEPA-UNS sekitar pukul 13.00 dengan peserta sebanyak 16 orang yaitu Saya (Dhita), Ayuk, Gilbert, Sidik, YD, YK, Aji, Dicky, Agung, Pita, Asrofi, Mega, Khanif, Pras, Sarah dan Ajeng. Di perjalanan dari sekre sampai Boyolali jalan masih lancar-lancar saja, namun setelah itu jalanan macet parah dikarenakan terjadi kecelakaan, sehingga rombongan kami terpisah. Rombongan pertama menuju tebing tebing terlebih dahulu untuk mengurusi administrasi.

Sekitar pukul 16.00 kami sampai di parkiran obyek wisata, saya bergegas menghubungi Bapak Darmin selaku ketua pengurus tebing Kalipancur untuk mengurusi biaya-biaya administrasi. Sebagai catatan, untuk menggunakan tebing, sebelumnya harus meminta izin kepada yang bersangkutan terlebih dahulu agar tidak terjadi miss komunikasi dengan pengguna tebing yang lain. Setelah beberapa lama, rombongan kedua sampai di lokasi, lalu kami bergegas menuju kediaman Pak Darmin untuk memarkirkan kendaraan kami. Di sana anggota melakukan ibadah sholat Ashar dan keperluan pribadi lainnya. Kami mulai turun menuju tebing sekitar pukul 16.30 ditemani oleh Pak Darmin yang menunjukkan jalan menuju tebing.

Jalan ke tebing berupa undakan menurun yang cukup jauh dan memakan waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke tebing. Namun pemandangan yang disuguhkan bisa menghilangkan rasa lelah kita. Dari undakan paling atas kita bisa melihat air terjun setinggi 150 meter yang dikelilingi oleh tebing-tebing, dibagian bawah sebelah kanan air terjun terdapat hutan pinus yang rimbun. Untuk menuju tebing, pertama kita turun ke arah air terjun, kemudian berbelok ke kanan menuju ke arah hutan pinus. Jalanan menuju hutan pinus sedikit menanjak berlawanan dengan undakan menurun yang sebelumnya dilewati.

Sampai di tempat yang agak lapang, karena hari sudah mulai gelap, kami membagi tugas untuk sebagian orang mendirikan doom, sebagian memasak makan malam dan beberapa orang naik untuk mengecek tebing. Setelah hari mulai agak gelap, kami membuat api unggun untuk menghangatkan diri, dan selang beberapa saat kemudian makan malam pun siap.

Setelah melakukan makan malam, kami kedatangan saudara dari WAPEALA UNDIP yang juga akan melaksanakan kegiatan panjat tebing keesokan harinya. Bersama sama kami saling bertukar pengalaman dan bakar-bakaran. Setelah saudara dari WAPEALA kembali ke doom mereka, kami pun beristirahat. Sebagian anggota tidur di dalam doom dan sebagian lagi memilih untuk tidur di luar doom. Udara malam itu tidak terlalu dingin, namun semakin pagi, udara semakin mendingin.

Kami bangun sekitar pukul 05.30, seperti biasa kami langsung melakukan pembagian tugas dimana sebagian orang mengambil air dari mata air, sebagian memasak dan sebagian beres-beres. Sarapan siap sekitar pukul 07.30, setelah sarapan kami membereskan barang-barang pribadi, packing dan langsung naik ke tebing.

Pemanjatan dimulai sekitar pukul 08.30 dengan leader pertama adalah Sidik kemudian dilanjutkan oleh Pras yang meng-TOP-kan. Pada tebing Kalipancur ini batuan berupa andesit dan terdapat dua jalur yang biasanya dipakai, jalur pertama berupa sport climbing, sudah dipasangi hanger dan medan kebanyakan berupa rekahan, jalur itulah yang kami akan pakai. Sedangkan yang kedua adalah jalur artificial climbing yang berupa tumpukan batu-batu, namun cukup kuat. Setelah runner dipasang, anggota bergantian mencoba jalur tersebut, namun hanya beberapa saja yang bisa TOP, diantaranya adalah Sidik, Pras, Gilbert dan Aji.

Pemanjatan selesai pukul 15.00 dan kami mulai packing alat dan logistik sedangkan Gilbert yang bertugas melakukan cleaning jalur. Setelah selesai packing kami berbegas kembali ke basecamp namun sebelumnya kami sempat berfoto bersama saudara dari WAPEALA UNDIP yang sebelumnya juga melakukan pemanjatan artificial di tebing sebelah kami.

Perjalanan pulang lebih berat dari perjalanan datang karena medan berupa undakan naik yang otomatis memakan waktu lebih lama dan tenaga lebih banyak. Beberapa kali kami bahkan melakukan istirahat seperti waktu pendakian. Perjalanan naik sekitar 30 menit sampai basecamp rumah Pak Darmin. Setelah itu anggota melakukan evaluasi kegiatan dan bersiap-siap kembali ke Solo.

dsc00217dsc00213dsc00207dsc00166dsc00003

(Dhita AR)

Advertisements

One thought on “PERJALANAN PEMANJATAN TEBING KALIPANCUR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s