LATIHAN ALAM ROCK CLIMBING DI TEBING KALIPANCUR SALATIGA Sabtu-Minggu, 3-4 Maret 2018

Latihan alam tahun ini, divisi RC memilih tebing Kalipancur di Salatiga sebagai destinasinya. Alasan dipilihnya tebing ini adalah karena jenis batuan yang berbeda dari tebing yang biasanya kami gunakan untuk latihan yaitu batuan kapur. Sementara tebing Kalipancur jenis batuannya adalah andesit. Memang sedikit licin, tapi itulah yang menarik yang menjadi tantangan tersendiri untuk dihadapi. Selain itu obyek wisata air terjun di kawasan ini juga menarik perhatian kami.

Sebelum melakukan perjalanan, persiapan sangat diperlukan untuk menunjang perjalanan yang aman dan nyaman. Persiapan yang perlu dilakukan berupa packing alat untuk pemanjatan artificial, tenda dome, bahan-bahan makanan untuk dua hari, alat masak dan makan, kotak pertolongan pertama, dan keperluan logistik lain. Persiapan ini dilakukan di sekretariat MEPA-UNS dan dilakukan sejak hari Jumat karena banyak hal yang harus disiapkan dan mengingat  banyaknya peserta yang ikut.

Peserta yang ikut adalah:

  1. Sarah Sayekti MEPA 15.011
  2. Gilbert WHS MEPA 13.006
  3. Rohmad Sapto U MEPA 15.010
  4. Desi Indah W MEPA 16.002
  5. Susianti K MEPA 16.009
  6. Dhita Amalia R MEPA 13.001
  7. Agustina S MEPA 17.001
  8. Maryani MEPA 17.003
  9. Sofitasari MEPA 17.004
  10. Sofian Aji MEPA 16.007
  11. Hasan (dari MASSENCA)

Perjalanan dimulai dari hari Sabtu pukul 16.45. Setelah semua pesiapan beres dan tak lupa berdoa, kami langsung berangkat menuju lokasi dengan mengendarai sepeda motor. Rute yang ditempuh dari UNS ke Boyolali ke Salatiga dan belok kiri di perempatan Salatiga Semarang, kemudian lurus dan belok kanan ketika sudah menemui jalan alternative ke Grabak, setelah itu masuk terus sampai ketemu gapura Kalipancur. Waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 3 jam setengah.

Sesampainya di lokasi malam itu, kami kemudian mendirikan dome di tempat parkeir dekat pintu masuk retribusi obyek wisata. Setelah beres-beres, memasak dan makan malam kami, akhirnya kami tidur agak larut malam. Udara yang dingin sedikit membuat tidak nyaman saat akan tidur. Tapi untungnya kami telah menyiapkan baju-baju hangat dan sleeping bag.

Tibalah pagi hari yang sejuk dan sangat tenang. Kami bangun dengan semangat membara untuk menaklukkan tebing yang terjal pagi ini. Setelah makan dan packing kembali barang-barang, kami langsung turun menuju tebing. Akan tetapi kami tidak meninggalkan dome di tempat prarkir atas penjagaan petugas retribusi. Eits, sudah pasti ada retribusi masuknya, per orang Rp. 3.000 ditambah dengan biaya prarkir per motor Rp. 2.000.

1

Kami menuruni banyak sekali anak tangga untuk sampai ke air terjun yang snagat tinggi. Udara sangat menyegarkan. Suara air terjunnya bergemuruh keras. Ketika melewatinya, rambut kami sedikit basah terkena air yang terbang. Kemudian kami menaiki jalan setapak terjal. Walaupun tidak sepanjang anak tangga ketika turun, jalan setapak ini sama melelahkannya.

23

Kami sampai di lokasi tebing sekitar pukul setengah sepuluh. Jalur ini sudah ada hangernya Pemanjatan langsung dipimpin oleh  Gilbert sampai top.. Kemudian mengikuti peserta-peserta lain. Walaupun setelah Gilbert hanya Sapto yang top, tapi peserta lain juga sudah berusaha dengan maksimal dan tentu saja dengan dengan kegembiraan. Sempat terhalang hujan sebentar, tapi kemudian kami tetap melanjutkan pemanjatan sampai siang.

Selagi peserta lain melakukan pemanjatan di jalur pertama dengan bergantian, Gilbert dan Sapto memimpin di jalur lain. Kali ini pemanjatan artifial. Lokasinya bersebelahan dengan jalur yang pertama. Di jalur ini, pengaman-pengaman sisip diaplikasikan, karena pada tebing inni ada rekahan yang menjulang dari bawah sampai atas.  Mereka berdua memanjatnya bergantian. Kemudian ketika Hasan ingin mencoba jalur ini, hujan turun cukup lebat. Kami pun menghentikan pemanjatan di kedua jalur.

456789

Sambil menunggu hujan reda kami mengobrol dan berbagi pengalaman seputar memanjat atau hal lain sambil memakan makanan ringan yang ada, berteduh di bawah shelter yang kami buat. Hal sesederhana ini pun terasa menyenangkan dan membahagiakan jika bersama dengan orang-orang yang kita anggap berharga. Ditambah lagi kami kedatangan teman-teman dari Dinamik FT UMS yang melakukan survey.

Ketika hujan mereda, kami bergegas cleaning jalur dan cleaning tempat. Kemudian turun dan berhenti di air terjun untuk bersantai sebentar. Banyak yang mandi di bawah air terjun, menyeburkan diri ke kubangannya, berfoto di sekitar air terjun, atau sekedar menikmati suasana dan pemandangan indah yang ada di sekeliling air terjun yang cukup tinggi itu. Sampai sekitar pukul empat sore kami memutuskan untuk naik kembali ke parkiran untuk pulang.

Perjalanan pulang berjalan dengan lancar bersama dengan rombongan Dinamik. Namum kali ini kami menggunakan jalur yang berbeda, yaitu dengan berjalan lurus saat melewati pertigaan masjid dekat kantor polisi yang seharusnya jika ingin menggunakan jalur yang sama dengan ketika berangkat kita harus belok kiri.  Jalannya agak berliku dan sedikit sempit. Tapi tidak masalah karena waktu tempuh lebih cepat alaupun sudah malam.

Akhirnya kami sampai juga kembali ke sekretariat MEPA-UNS. Tidak lupa kami membersihkan semua peralatan yang telah kami gunakan bersama. Ini merupakan kewajiban semua peserta yang ikut untuk ikut membantu membersihkan semua peralatan. Setelah selesai kami pulang ke rumah atau kos masing-masing.

Sekian cerita panjat tebing divisi RC MEPA-UNS di Kalipancur. Terimakasih sudah membaca. Sampai bertemu kembali di cerita lain.

 

Koordinator Divisi RC MEPA-UNS

Sarah Sayekti

MEPA 15.011

Advertisements

PEMANJATAN TEBING PANTAI SIUNG

MEPA-UNS mengadakan  Latihan Alam Panjat Tebing di pantai Siung. kegiatan ini bertujuan mengenalkan kegiatan panjat tebing dengan tebing dari alam. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 20-22 januari 2017. Pantai Siung terletak di Dusun Wates, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, kurang lebih 77 km dari pusat kota Jogja. Selain keindahan pantai, terdapat kurang lebih sekitar 250 jalur panjat tebing.

Continue reading “PEMANJATAN TEBING PANTAI SIUNG”

PEMANJATAN TEBING NGLANGGERAN 2016

IMG_3681.JPG

Gunung api purba Nglanggeran adalah gunung api yang sudah tidak aktif selama beribu tahun lamanya. Gunung ini terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul yang berada pada deretan Pegunungan Sewu. Ketinggian puncaknya sekitar 1200 mdpl. Menurut kami ada tiga potensi wisata di gunung api purba Nglanggeran ini (urut dari yang paling popular) : Hiking, camping,climbing. Mayoritas pengunjung bertujuan untuk mendaki dan camping sedangkan untuk climbing masih terbilang sepi, padahal ada puluhan jalur pemanjatan dengan dynabolt/hanger yang masih mengkilap dan ditambah boulder alam dengan berbagai tingkat kesulitan dan ketinggian.  Tipe tebingnya adalah batuan lava beku yang solid namu di beberap titik akan kita temui batuan yang mudah hancur, ini tentu cukup berbahaya bagi pemanjat, jadi disarankan untuk hati-hati.

Continue reading “PEMANJATAN TEBING NGLANGGERAN 2016”

PERJALANAN PEMANJATAN TEBING KALIPANCUR

Pada tanggal 19 – 20 September 2015 kemarin, tepat seminggu setelah kegiatan MNAC, MEPA-UNS mengadakan latihan alam ke tebing Kalipancur. Tebing Kalipancur tepatnya beralamat di desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, sekitar 14 km sebelah barat Kota Salatiga. Yang membuat spesial dari tempat pemanjatan ini adalah lokasi tebing yang berdekatan dengan air terjun setinggi 150 meter dan dikelilingi oleh hutan pinus.

Kami berangkat dari sekre MEPA-UNS sekitar pukul 13.00 dengan peserta sebanyak 16 orang yaitu Saya (Dhita), Ayuk, Gilbert, Sidik, YD, YK, Aji, Dicky, Agung, Pita, Asrofi, Mega, Khanif, Pras, Sarah dan Ajeng. Di perjalanan dari sekre sampai Boyolali jalan masih lancar-lancar saja, namun setelah itu jalanan macet parah dikarenakan terjadi kecelakaan, sehingga rombongan kami terpisah. Rombongan pertama menuju tebing tebing terlebih dahulu untuk mengurusi administrasi. Continue reading “PERJALANAN PEMANJATAN TEBING KALIPANCUR”