RUNDOWN ECO CAMP 2018

Berikut adalah Rundown Kegiatan ECO Camp 2018, silahkan di download 😊

RUNDOWN KEGIATAN ECO CAMP 2018

Advertisements

ECO CAMP 2018

Haiii Haiii ✋
Semangat Pagi Calon ECOmers muda 💪😎

PAMFLET ECO CAMP revisi
OPEN REGISTRATION ECO Camp 2018 RESMI DIBUKA!!!🎊🎉🎊🎉
ECO Camp merupakan kegiatan pelatihan pengembangan diri yang dikemas dalam bentuk kegiatan petualangan di Alam.
ECO Camp 2018 hadir dengan konsep camping yang tidak biasa. Tanggap, mandiri, kerja sama tim, dan kreativitas adalah nilai yang ingin kita capai.😊
Bagi kalian anak-anak muda yang siap berpetualang, pantang menyerah dan suka terhadap tantangan, Pastikan dirimu menjadi bagian dari ECO Camp 2018.👍🏻🤓😎
Jangan sampai lupa Tanggal Pendaftaran dan informasi yang telah tercantum di Pamflet online ECO Camp 2018.😉👍🏻
Kami tunggu partisipasi kalian di ECO Camp 2018!!😎

Tata Cara Pendaftaran:
Silahkan klik Link dibawah ini ⬇

https://goo.gl/forms/LBvGmTSFXZSppBEl2
Salam Lestari!! ✋
#ECOCamp2018

 

Pendakian Gunung Lawu Lintas Jalur Via Candi Cetho-Cemoro Kandang

Gunung Lawu adalah gunung yang berada diketinggian 3265 mdpl merupakan gunung yang memiliki keindahan tersendiri. Gunung Lawu berada di antara kabupaten Magetan, ngawi  dan Karanganyar. Antara propinsi Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Gunung satu ini memiliki 3 puncak, yakni puncak Hargo Dumiling, Hargo Dalem dan puncak Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 3.265 mdpl. Gunung Lawu ini memiliki beberapa jalur pendakian, diantaranya Jalur Cemoro Kandang, Jalur Cemoro Sewu, Jalur Candi Cetho, Jalur Jenawi, Jalur Ngawi.

Pada pendakian kali ini yang beranggotakan Sofita (saya sendiri), Tesia, Fauzi, Asrofi, Pendi, dan Ira, mencoba untuk melakukan pendakian Gunung Lawu lintas jalur, naik via Candi Cetho, dan turun via  Cemoro Kandang. Jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho merupakan jalur terpanjang di bandingkan dengan jalur-jalur yang lainnya. Dahulu jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho kurang di minati oleh para pendaki, namun berbeda dengan sekarang, para pendaki lebih suka melalui jalur ini karena terdapat pemandangan savana yang melengkapi keindahan di jalur pendakian ini.

Day 1 ( Jumat, 20 Juli 2018 )

1.jpg

Pendakian Gunung Lawu lintas jalur via Candi Cetho-Cemoro Kandang ini dilaksanakan pada tanggal 20-22 Juli 2018. Tepatnya pada tanggal 20 Juli 2018 pukul 13.45 kami berkumpul di depan gedung kesekretariatan untuk briefing dan berdoa terlebih dahulu sebelum berangkat. Setelah itu, kami menuju ke gerbang depan kampus UNS karena kami menggunakan transportasi umum. Jam 14.15 kami berangkat menggunakan bus Rukun Sayur sampai dengan Pom Bensin Karangpadan dengan tarif Rp10.000/orang. Perjalanan ini menempuh waktu 45 menit, sehingga kami tiba di Pom Bensin Karangpandan pada pukul 15.00. Setelah tiba di Pom Bensin Karangpandan, carter mobil yang akan kami gunakan untuk menuju basecamp Candi Cetho sudah menunggu di tempat. Kami melaksanakan ibadah sholat ashar terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah sholat ashar, kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan carter sampai dengan basecamp Candi Cetho dan memakan waktu 45 menit dengan biaya Rp200.000/sekali jalan. Sehingga kami tiba di basecamp pada pukul 16.00.

2

Setelah sampai di basecamp, kami istirahat sebentar lalu berjalan-jalan di area tersebut, kemudian kami berfoto di depan Candi Cetho untuk mengisi waktu luang kami. Setelah selesai foto, kami menuju basecamp lagi untuk beristirahat mengumpulkan tenaga untuk pendakian esok hari.

 

Day 2 ( 21 Juli 2018)

Keesokan harinya, kami bangun jam 04.30 kemudian melakukan ibadah sholat subuh. Setelah itu, kami memasak untuk sarapan. Setelah sarapan, kemudian kami packing ulang dan melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian.

3

Dari basecamp menuju Pos Masuk

Pada pukul 08.30 kami berangkat dari basecamp menuju tempat registrasi dan mengurus simaksi dengan harga Rp15.000/orang. Karena kami lintas jalur, maka harus menyerahkan fotocopy KTP untuk syaratnya dan ketika sudah sampai basecamp cemoro kandang wajib lapor ke basecamp Candi Cetho. Setelah beres mengurus simaksi, kemudian kami berdoa terlebih dahulu agar pendakian yang kami lakukan bisa berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan suatu apapun. Setelah selesai berdoa, kemudian kami memulai pendakian ini pada pukul 09.00.

Posko masuk ke pos 1

Dari posko masuk ini sudah terlihat bahwa banyak pendaki lain yang sama-sama melakukan pendakian lewat jalur ini. Kami melakukan pendakian dengan berjalan santai, tidak jauh dari posko masuk tadi, terdapat candi kethek yang berada di sebelah kanan jalur pendakian ini. Dari posko masuk sampai pos 1, jalur pendakian masih agak landai dan menanjak konstan sehingga masih belum merasakan kelelahan yang berarti. Track pendakian yang berupa tanah padat menjadikan jalur ini lebih bersahabat dengan pendaki. Dijalur ini, juga terdapat pipa-pipa air yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Setelah menempuh waktu sekitar 50 menit, akhirnya kami sampai di pos 1 ( Mbah Branti ). Di pos ini terdapat tanah lapang yang agak luas dan terdapat shelter yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di pos ini kami beristirahat sebentar kemudian melanjutkan pendakian kembali.

Pos 1 ke Pos 2

Setelah beristirahat sebentar di pos 1, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Dari pos 1 menuju pos 2 ini jalur pendakian masih sama, yaitu berupa tanah padat dengan tanjakan yang konstan. Dan vegetasi yang ada di jalur ini masih agak terbuka, hanya dibeberapa bagian saja yang vegetasinya mulai rapat. Setelah menempuh waktu sekitar 1 jam, akhirnya kami tiba di pos 2 ( Brakseng ). Di pos 2 ini, terdapat tanah lapang yang sedikit lebih luas daripada pos sebelumnya, dan tempat istirahat berada di bawah pohon besar. Sehingga bau-bau mistis mulai tercium dari pos ini.

Pos 2 ke pos 3

Pendakian yang sebenarnya di mulai dari pos 2 ke pos-pos berikutnya. Karena track pendakian yang berupa tanah dan  sudah mulai menanjak sehingga menguras banyak tenaga. Jalur dari pos 2 ke pos 3 merupakan jalur terpanjang sepanjang pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho. Di jalur ini pepohonan mirip lamtoro mulai mendominasi. Di antara pos 2 dan pos 3, sekitar 15 menit sebelum pos 3, terdapat sumber air. Di sini kami beristirahat sebentar dan melakukan ibadah sholat dzuhur. Setelah sholat, kami mengisi bekal air di tempat ini. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke pos 3. Akhirnya setelah memakan waktu hampir 2 jam, kami tiba di pos 3 ( Cemoro Dowo ). Di pos 3 ini terdapat area yang luas dan bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Selain itu, terdapat shelter juga yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di pos 3 ini kami beristirahat agak lama sembari berbicang-bincang dengan pendaki lain.

Pos 3 ke pos 4

Setelah beristirahat agak lama, dan rasa lelah mulai sedikit hilang, kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali. Jika perjalanan pos 2 sampai pos 3 merupakan jalur terpanjang, maka di perjalanan dari pos 3 ke pos 4 ini merupakan jalur yang paling menanjak dibandingkan dengan jalur yang lainnya. Sehingga di jalur ini tenaga terkuras banyak karena medan yang menanjak. Track masih berupa tanah dengan akar yang melebar pada pertengahan jalan, dan akan lebih merapat lagi ketika akan sampai pos 4. Setelah berjalan selama kurang lebih 2 jam, akhirnya sampai juga kami di pos 4 ( Penggik/Odorante ). Pos ini berupa tempat landai namun tidak seluas pos-pos sebelumnya. Terdapat satu shelter juga yang berada di sebelah kiri jalur pendakian. Di sini kami istirahat tidak terlalu lama karena melihat waktu yang sudah menjelang sore dan sebentar lagi matahari akan terbenam. Setelah kami merasa cukup waktu untuk istirahat sembari melahap bekal makanan yang di bawa, kemudian kami melanjutkan kembali perjalanannya agar sampai pos 5 tidak larut malam.

Pos 4 ke pos 5

Jalur pendakian masih sama seperti sebelumnya yaitu jalan setapak di bawah hutan lebat menanjak. Namun track mulai terbuka ketika melewati  sisi punggungan bukit, sehingga pemandangan indah mulai terpancar di sini. Di atas bukit terdapat padang rumput luas sebelum pos 5, karena hari sudah mulai gelap maka kami tidak sempat berfoto di padang rumput ini dan terus melanjutkan perjalanan. Hanya sekitar 10 menit kami berjalan dari padang rumput tadi, tibalah kami di pos 5. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, dan matahari akan segera terbenam, maka kita memutuskan untuk camp di pos 5 ini karena cuaca dan waktu yang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Disini kami mulai bergegas untuk mendirikan tenda agar cepat beristirahat. Lalu memasak bekal yang kami bawa untuk menghangatkan badan maupun untuk makan malam kami. Setelah itu kami semua tidur untuk menyiapkan kembali tenaga yang akan di gunakan untuk perjalanan besok sampai ke puncak.

 

Day 3 ( 22 Juli 2018 )

Pos 5 sampai puncak Hargo Dalem

Setelah semalam kami tertidur pulas karena merasakan nikmatnya waktu istirahat di tambah lagi dinginnya Gunung Lawu yang membuat kami enggan untuk bangun, tetapi keadaan harus memaksa kami untuk segera bangun. Kami bangun pukul 05.00 kemudian segera memasak makanan untuk sarapan agar mendapat energi kembali yang kemarin sempat terkuras habis. Setelah selesai sarapan, kami segera packing ulang barang bawaan kami dan segera melanjutkan perjalanan karena sinar matahari yang mulai menyengat. Setelah packing selesai, kami melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum memulai pendakian kembali.

4

Di pos 5 ini kami sempat mengabadikan keindahan yang sangat menakjubkan yang menjadi bagian dari indahnya Gunung Lawu. Setelah berfoto dan berdo’a sekaligus, pukul 08.00 kami melanjutkan perjalanan kembali. Dimulai dengan berjalan santai agar tidak cepat lelah karena medan awal yang kami lalui sudah track yang menanjak.

5

Namun semua itu terbayarkan setelah kami sampai di padang savana yang sangat luas dan menakjubkan, sungguh ciptaan Tuhan Yang Maha Esa begitu indah dan sempurna. Kemudian kami melanjukan perjalanan kembali dan melewati tanjakan yang mirip dengan tanjakan cinta. Kemudian kami sampai di Gupakan Menjangan yang terdapat telaga, namun saat kami tiba di sana, telaga tersebut sedang kering karena memang sedang musim kemarau. Setelah berjalan 1,5 jam lamanya, kami tiba di tempat batu-batu yang berserakan yang dinamakan Pasar Dieng atau Pasar Setan. Waktu menunjukkan pukul 10.50, dan kami tiba di warung Mbok Yem, di sini kami istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak. Karena kami lintas jalur, jadi carrier tidak kami bawa sampai puncak tetapi dititipkan di warung tersebut.

Puncak Hargo Dalem ke Puncak Hargo Dumilah

6

Setelah beristirahat sekitar 15 menit, kami segera bergegas untuk melakukan pendakian ke puncak Gunung Lawu. Waktu yang ditempuh dari warung Mbok Yem sampai puncak yaitu sekitar 30 menit. Track yang dilalui menuju puncak berupa jalan yang menanjak bebatuan. Tidak selang lama sampailah kami di puncak Gunung Lawu. Kami mengabadikan momen di puncak ini dengan berfoto-foto kemudian menikmati bekal buah yang kami bawa dari bawah. Makan buah di puncak Gunung Lawu ditemani dengan pemandangan indah, menambah segarnya buah yang kami makan.

Rasa lelah sudah terbayarkan, kemudian kami bergegas untuk turun ke warung Mbok Yem kembali untuk mengambil barang bawaan kami, dan tidak lupa membawa sampah kami untuk di bawa turun. Sebelum bergegas turun, kami melakukan ibadah sholat dzuhur yang dijamak dengan sholat ashar sekalian. Waktu menunjukkan pukul 13.00, kami mulai melakukan perjalanan turun melalui jalur cemoro kandang dengan berjalan santai karena tracknya naik turun lewat punggungan bukit. Setelah sampai pos 4, kami istirahat sebentar dan bertemu dengan pendaki lain yang sedang naik melalui jalur cemoro kandang. Setelah itu, kami melanjutkan kembali perjalanan turun. Jam 15.30 kami sudah sampai di pos 2. Setelah berjalan 2 jam, tibalah kami di basecamp cemoro kandang pada pukul 17.30. Saat kami tiba di basecamp, ternyata carter yang sudah kami pesan sebelumnya sudah menunggu kedatangan kami. Kemudian kami mengabari basecamp Candi Cetho bahwa kami sudah sampai di cemoro kandang. Kemudian kami segera melaksanakan sholat maghrib dan bergegas pulang. 1 jam lamanya perjalanan, tibalah kami di sekretariat MEPA-UNS. Setelah itu kami segera membersihkan alat-alat yang digunakan selama pendakian, dilanjutkan dengan evaluasi kegiatan. Setelah semua selesai, kami pulang ke rumah masing-masing dan beristirahat.

 

Terimakasih sudah membaca

Leave Nothing But Footprints

Take Nothing But Pictures

Kill Nothing But Time

“Sebuah bangsa tidak akan kehilangan pemimpin yang bijaksan dan adil, selama para pemuda yang hidup di dalamnya masih menyukai menjelajahi hutan dan mendaki gunung.” -Soe Hok Gie

 

Ditulis oleh :

Sofita Sari

MEPA 17.004

LATIHAN ALAM ROCK CLIMBING DI TEBING KALIPANCUR SALATIGA Sabtu-Minggu, 3-4 Maret 2018

Latihan alam tahun ini, divisi RC memilih tebing Kalipancur di Salatiga sebagai destinasinya. Alasan dipilihnya tebing ini adalah karena jenis batuan yang berbeda dari tebing yang biasanya kami gunakan untuk latihan yaitu batuan kapur. Sementara tebing Kalipancur jenis batuannya adalah andesit. Memang sedikit licin, tapi itulah yang menarik yang menjadi tantangan tersendiri untuk dihadapi. Selain itu obyek wisata air terjun di kawasan ini juga menarik perhatian kami.

Sebelum melakukan perjalanan, persiapan sangat diperlukan untuk menunjang perjalanan yang aman dan nyaman. Persiapan yang perlu dilakukan berupa packing alat untuk pemanjatan artificial, tenda dome, bahan-bahan makanan untuk dua hari, alat masak dan makan, kotak pertolongan pertama, dan keperluan logistik lain. Persiapan ini dilakukan di sekretariat MEPA-UNS dan dilakukan sejak hari Jumat karena banyak hal yang harus disiapkan dan mengingat  banyaknya peserta yang ikut.

Peserta yang ikut adalah:

  1. Sarah Sayekti MEPA 15.011
  2. Gilbert WHS MEPA 13.006
  3. Rohmad Sapto U MEPA 15.010
  4. Desi Indah W MEPA 16.002
  5. Susianti K MEPA 16.009
  6. Dhita Amalia R MEPA 13.001
  7. Agustina S MEPA 17.001
  8. Maryani MEPA 17.003
  9. Sofitasari MEPA 17.004
  10. Sofian Aji MEPA 16.007
  11. Hasan (dari MASSENCA)

Perjalanan dimulai dari hari Sabtu pukul 16.45. Setelah semua pesiapan beres dan tak lupa berdoa, kami langsung berangkat menuju lokasi dengan mengendarai sepeda motor. Rute yang ditempuh dari UNS ke Boyolali ke Salatiga dan belok kiri di perempatan Salatiga Semarang, kemudian lurus dan belok kanan ketika sudah menemui jalan alternative ke Grabak, setelah itu masuk terus sampai ketemu gapura Kalipancur. Waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 3 jam setengah.

Sesampainya di lokasi malam itu, kami kemudian mendirikan dome di tempat parkeir dekat pintu masuk retribusi obyek wisata. Setelah beres-beres, memasak dan makan malam kami, akhirnya kami tidur agak larut malam. Udara yang dingin sedikit membuat tidak nyaman saat akan tidur. Tapi untungnya kami telah menyiapkan baju-baju hangat dan sleeping bag.

Tibalah pagi hari yang sejuk dan sangat tenang. Kami bangun dengan semangat membara untuk menaklukkan tebing yang terjal pagi ini. Setelah makan dan packing kembali barang-barang, kami langsung turun menuju tebing. Akan tetapi kami tidak meninggalkan dome di tempat prarkir atas penjagaan petugas retribusi. Eits, sudah pasti ada retribusi masuknya, per orang Rp. 3.000 ditambah dengan biaya prarkir per motor Rp. 2.000.

1

Kami menuruni banyak sekali anak tangga untuk sampai ke air terjun yang snagat tinggi. Udara sangat menyegarkan. Suara air terjunnya bergemuruh keras. Ketika melewatinya, rambut kami sedikit basah terkena air yang terbang. Kemudian kami menaiki jalan setapak terjal. Walaupun tidak sepanjang anak tangga ketika turun, jalan setapak ini sama melelahkannya.

23

Kami sampai di lokasi tebing sekitar pukul setengah sepuluh. Jalur ini sudah ada hangernya Pemanjatan langsung dipimpin oleh  Gilbert sampai top.. Kemudian mengikuti peserta-peserta lain. Walaupun setelah Gilbert hanya Sapto yang top, tapi peserta lain juga sudah berusaha dengan maksimal dan tentu saja dengan dengan kegembiraan. Sempat terhalang hujan sebentar, tapi kemudian kami tetap melanjutkan pemanjatan sampai siang.

Selagi peserta lain melakukan pemanjatan di jalur pertama dengan bergantian, Gilbert dan Sapto memimpin di jalur lain. Kali ini pemanjatan artifial. Lokasinya bersebelahan dengan jalur yang pertama. Di jalur ini, pengaman-pengaman sisip diaplikasikan, karena pada tebing inni ada rekahan yang menjulang dari bawah sampai atas.  Mereka berdua memanjatnya bergantian. Kemudian ketika Hasan ingin mencoba jalur ini, hujan turun cukup lebat. Kami pun menghentikan pemanjatan di kedua jalur.

456789

Sambil menunggu hujan reda kami mengobrol dan berbagi pengalaman seputar memanjat atau hal lain sambil memakan makanan ringan yang ada, berteduh di bawah shelter yang kami buat. Hal sesederhana ini pun terasa menyenangkan dan membahagiakan jika bersama dengan orang-orang yang kita anggap berharga. Ditambah lagi kami kedatangan teman-teman dari Dinamik FT UMS yang melakukan survey.

Ketika hujan mereda, kami bergegas cleaning jalur dan cleaning tempat. Kemudian turun dan berhenti di air terjun untuk bersantai sebentar. Banyak yang mandi di bawah air terjun, menyeburkan diri ke kubangannya, berfoto di sekitar air terjun, atau sekedar menikmati suasana dan pemandangan indah yang ada di sekeliling air terjun yang cukup tinggi itu. Sampai sekitar pukul empat sore kami memutuskan untuk naik kembali ke parkiran untuk pulang.

Perjalanan pulang berjalan dengan lancar bersama dengan rombongan Dinamik. Namum kali ini kami menggunakan jalur yang berbeda, yaitu dengan berjalan lurus saat melewati pertigaan masjid dekat kantor polisi yang seharusnya jika ingin menggunakan jalur yang sama dengan ketika berangkat kita harus belok kiri.  Jalannya agak berliku dan sedikit sempit. Tapi tidak masalah karena waktu tempuh lebih cepat alaupun sudah malam.

Akhirnya kami sampai juga kembali ke sekretariat MEPA-UNS. Tidak lupa kami membersihkan semua peralatan yang telah kami gunakan bersama. Ini merupakan kewajiban semua peserta yang ikut untuk ikut membantu membersihkan semua peralatan. Setelah selesai kami pulang ke rumah atau kos masing-masing.

Sekian cerita panjat tebing divisi RC MEPA-UNS di Kalipancur. Terimakasih sudah membaca. Sampai bertemu kembali di cerita lain.

 

Koordinator Divisi RC MEPA-UNS

Sarah Sayekti

MEPA 15.011

SUSUNAN PENGURUS MEPA-UNS MASA BHAKTI 2016-2018 PERIODE II

Ketua Umum : Rhein Nur Darnadia (MEPA 14.020)
Ketua Harian : Cahya Suwarto (MEPA 15.002)
Sekretaris : Desi Indah Widiastuti (MEPA 16.002)
bendahara : Susianti Kurniasari (MEPA 16.009)
Koordinator RC : Sarah Sayekti (MEPA 15.011)
Koordinator HG : Tesia Armala Pangesti (MEPA 16.010)
Koordinator OD : Fadila Esha Palupi (MEPA 16.004)
Koordinator caving : Cahya Hidayanti (16.001)
Sie Personalia : Desi Indah Widiastuti (MEPA 16.002)
Sie LH : Tesia Armala Pangesti (MEPA 16.010)
Sie Litbang : Sukma Dellaraswati (MEPA 16.008)
Sie Publikasi : Sukma Dellaraswati (MEPA 16.008)
Sie Logistik : Susianti Kurniasari (MEPA 16.009)

Goa Gebyok, Tepus, Gunung Kidul

28-30 September 2017

Disuatu sore,

Di sebuah sekretariat,tempat kita berkumpul yang  telah dipenuhi canda tawa dan terdengar sebuah keramaian  dengan berbagai aktivitas dan kesibukan untuk penelusuran goa.

Selain melakukan  penelusuran Goa Gebyok, dihari terakhir kita Camping Ceria di pantai pok tunggal yang berada disekitar tepus gunung kidul.

11

Continue reading

EKSPEDISI JOBOLARANGAN

“Pendakian dan Navigasi Darat” 18-23 Agustus 2017

Rute : Tlogo Dlingo – Bukit Mrutu – Gn Mongkrang – Gn Jobolarangan – Gn Sewatu –

Gn Benteng – Gn Kukusan – Bulukerto Wonogiri

1Peserta : Qadama, Dinar, Sofian, Burhan, Lutfan, Tesia, Infus, Ira Continue reading “EKSPEDISI JOBOLARANGAN”